kjlkajsd lkjald

DETAIL THESIS

KEBERLANJUTAN SISTEM SUBAK DI PERKOTAAN KASUS SUBAK ANGGABAYA DI KAWASAN KELURAHAN PENATIH, KECAMATAN DENPASAR UTARA, KOTA DENPASAR


Oleh : ANAK AGUNG EKA SUWARNATA | -
Bidang Ilmu : Agribisnis | Tahun Penelitian : 2011



ABSTRAK

Organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian (subak), menjadi bagian dari unsur seni dan budaya yang diwarisi secara turun temurun oleh masyarakat Bali. Masyarakat dan kebudayaan Bali bergerak secara dinamis, dalam satu dekade terakhir mengalami perkembangan yang pesat. Faktor yang mendorong dinamika dan perubahan pesat tersebut antara lain kesesakan ekologi, konversi lahan, materialisme serta keterbukaan lokal, nasional dan internasional. Demikian pula subak, terutama di perkotaan semakin terdesak, akibat adanya peralihan fungsi lahan pertanian ke non pertanian yang tidak bisa dihindari. Salah satunya adalah Subak Anggabaya yang merupakan tipe dari subak di Perkotaan (Denpasar), yang terus terdesak oleh berbagai kepentingan non-pertanian sehingga perlu dikaji keberlanjutannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberlanjutan sistem subak di perkotaan yakni Subak Anggabaya. Sebagaimana diketahui bahwa keberlanjutan sistem subak berkaitan erat dengan penerapan Tri Hita Karana (THK) yaitu mengutamakan harmoni dan kebersamaan. Oleh karenanya dalam penelitian ini, keberlanjutan subak akan dilihat dari nilai penerapan THK pada Subak Anggabaya. Penelitian diselenggarakan di Subak Anggabaya Denpasar Utara, Kota Denpasar. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive. Jumlah responden yang digunakan sebanyak 30 orang yaitu petani Subak Anggabaya yang dianggap mengetahui dan paham tentang subak. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis matriks inverse dengan menggunakan sofeware matriks ftp-ugm 2001. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa keberlanjutan Subak Anggabaya dalam penerapan Tri Hita Karana masih kurang baik dan mengancam eksistensi subak. Hal ini dilihat dari nilai penerapan konsep Tri Hita Karana hanya sebesar 24,28%. Ada beberapa elemen dalam penerapan Tri Hita Karana yang masih belum dilaksanakan secara optimal oleh Subak Anggabaya. Misalnya belum ada aktivitas tambahan ekonomi, belum sepenuhnya sadar dengan larangan-larangan dalam lembaga subak, belum ada kesepakatan subak agar tidak ada alih fungsi lahan sawah, masih belum sepenuhnya mampu membuat bangunan irigasi, belum ada tokoh panutan dari pihak akademisi atau dari pemerintah, lingkungan internal Subak Anggabaya masih kurang kompak, anggota masih kurang dalam memahami sifat tanah dan informasi curah hujan, belum paham akan bahaya polusi, dan pemantauan daerah subak masih belum maksimal. Keberlanjutan Subak Anggabaya di perkotaan dapat ditingkatkan dengan cara perlu dibuat kebijakan dari pemerintah tentang pelaksanaan Tri Hita Karana, mencari solusi dari elemen-elemen yang masih kurang pelaksanaanya dalam penerapan Tri Hita Karana, mengadakan pembinaan dan penyuluhan tentang Tri Hita Karana di Subak Anggabaya.


Kata Kunci: Subak, keberlanjutan, Tri Hita Karana


ABSTRACT

Traditional irrigation organization in the field of agriculture (Subak), became part of the elements of art and culture inherited from generation to generation by the Balinese. Balinese society and culture moves dynamically, and in the last decade it has experienced a rapid development. Factors that encourage dynamism and rapid change, among other ecological distress, conversion of land, the materialism and the influs of local, national and international interests. Similarly subak, especially in urban areas increasingly land difficult to maintain, as a result of the transition function of agricultural land into non-farm that can not be avoided. One is the Subak Anggabaya which is a type of Subak in Urban (Denpasar), which continues being pressured by various non-agricultural interests that need to be assessed for sustainability. The purpose of this study was to determine the sustainability of urban systems in the Subak Anggabaya. As we know the sustainability subak system is closely related to the application of Tri Hita Karana (THK) and is a priority to harmony and togetherness. Therefore in this study, the sustainability of Subak will be seen from the application of the value of Subak Anggabaya THK. Research was conducted at the Subak Anggabaya, North Denpasar. Research sites were purposively determined. The number of respondents who used as many as 30 people are farmers who are considered Subak Anggabaya and who know and understand about subak. Analysis of the data in this study is inverse matrix analysis with sofeware from ftp-ugm 2001. Based on the results obtained, the sustainability of Subak Anggabaya in the application of Tri Hita Karana is still not good and is threatening the existence of subak. It is seen that the application of the concept of Tri Hita Karana only amounted to 24,28%. There are several elements in the application of Tri Hita Karana still not optimally implemented by Subak Anggabaya. For example, there is no additional economic activity, no about awareness of the prohibitions in subak institutions, there is no agreement subak so that no conversion of rice fields, still not fully able to make the building of irrigation, there has been no role models from academia or from the government parties, the environment Subak internal Anggabaya is still less compact, the member is still lacking in understanding the nature of soil and rainfall information, not yet aware of the dangers of pollution, and monitoring the Subak area is still not maximized. Subak Anggabaya urban sustainability can be enhanced by making government policies concerning the implementation of the Tri Hita Karana, finding solutions of the elements that are still less effective for implementation of Tri Hita Karana, and conducting coaching and counseling about the Tri Hita Karana in Subak Anggabaya.


Keywords: Subak, sustainability, Tri Hita Karana