Universitas Udayana Integrasikan Bangunan Rendah Karbon ke Kurikulum

Universitas Udayana memperkuat pendidikan bangunan rendah karbon melalui pelatihan integrasi materi Low-Carbon Building dan Building Emission Assessment Tool ke dalam kurikulum Fakultas Teknik.

DENPASAR – Universitas Udayana memperkuat komitmennya terhadap pembangunan rendah karbon melalui pelatihan integrasi materi Low-Carbon Building atau LCB ke dalam kurikulum Fakultas Teknik. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Bali, pada Kamis, 23 Juli 2026.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari proyek Asia Low-Carbon Buildings Transition atau ALCBT. Program ini berfokus pada pengembangan perangkat pengukuran karbon, penyusunan kebijakan, peningkatan kapasitas terkait karbon material bangunan, serta pengembangan kerangka taksonomi bangunan rendah karbon.

Dalam program integrasi silabus LCB, Universitas Udayana menjadi mitra universitas HEAT GmbH. Kerja sama ini mencakup pemetaan kesenjangan kurikulum, peningkatan materi perkuliahan, serta pengembangan Massive Open Online Course atau MOOC.

Pelatihan ditujukan kepada dosen dan tim kurikulum dari program studi terkait di Fakultas Teknik, terutama Arsitektur dan Teknik Sipil. Kegiatan ini dirancang untuk membangun landasan teknis yang sama mengenai prinsip, metode, dan perangkat analisis bangunan rendah karbon.

4

Modul Utama

Pelatihan mencakup transisi regional, manajemen energi, audit energi, dan Bangunan Gedung Hijau.

3

Tahap Integrasi

Kurikulum akan dinilai, diperkuat, dan diperluas melalui pembelajaran digital.

2022

Fondasi Akademik

Prinsip Bangunan Hijau telah menjadi mata kuliah wajib pada Program Studi Arsitektur sejak 2022.

Membangun Pengetahuan Lintas Disiplin

Peserta diperkenalkan pada modul utama ALCBT serta Building Emission Assessment Tool atau BEAT. Perangkat ini membantu pengguna mengidentifikasi karbon tertanam dan karbon operasional sebagai dua sumber utama emisi bangunan.

Karbon tertanam berasal dari material dan proses konstruksi. Karbon operasional berkaitan dengan konsumsi energi selama bangunan digunakan. Pemahaman terhadap kedua sumber emisi tersebut diperlukan agar keputusan desain dapat mempertimbangkan dampak lingkungan sejak tahap perencanaan.

Universitas Udayana menempatkan integrasi bangunan rendah karbon sebagai kerja lintas disiplin. Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknologi Informasi memiliki peran yang saling melengkapi.

Bidang Arsitektur berperan dalam fisika bangunan, desain pasif, dan penerapan arsitektur vernakular Bali. Teknik Sipil berkontribusi melalui penghitungan volume material dan inventarisasi karbon.

Teknik Mesin dan Teknik Elektro mendukung pengendalian beban pendinginan, sistem bangunan, audit energi, serta pemanfaatan energi terbarukan. Teknologi Informasi berperan dalam simulasi, pemodelan informasi bangunan, pengolahan data, dan pengembangan pembelajaran digital.

Fokus Akademik

Dekarbonisasi bangunan membutuhkan keterhubungan antara perancangan, material, sistem energi, teknologi digital, dan kebijakan dalam satu kerangka pembelajaran.

Empat Modul dan Penerapan BEAT

Modul pertama membahas transisi regional menuju bangunan rendah karbon, termasuk kebijakan iklim, peraturan bangunan, dan respons desain terhadap kondisi tropis.

Modul kedua berfokus pada peran manajer energi dengan materi efisiensi operasional, pengendalian sistem bangunan, dan energi terbarukan. Modul ketiga membahas audit energi, pengukuran kinerja, verifikasi, serta pelaporan emisi menggunakan BEAT.

Modul keempat membahas Bangunan Gedung Hijau atau BGH sebagai standar nasional untuk penerapan dan sertifikasi bangunan hijau di Indonesia.

Peserta juga memperoleh materi mengenai karbon tertanam, efisiensi energi bangunan, kebutuhan data BEAT, dan Environmental Product Declaration. Pelatihan dilengkapi latihan langsung untuk menilai contoh bangunan menggunakan BEAT.

Agenda kegiatan turut memuat diskusi kelompok mengenai cara memasukkan materi LCB dan BEAT ke dalam mata kuliah serta tugas mahasiswa. Pembahasan tersebut diarahkan untuk menghasilkan langkah tindak lanjut dalam peningkatan kurikulum dan pengembangan MOOC.

Didukung Modal Akademik dan Infrastruktur

Universitas Udayana memiliki modal akademik untuk menjalankan program tersebut. Program Studi Arsitektur telah mengajarkan Prinsip Bangunan Hijau sebagai mata kuliah wajib sejak 2022.

Program Studi Arsitektur tercatat memiliki lebih dari 658 mahasiswa sarjana, lebih dari 50 mahasiswa magister, dan 13 dosen bergelar doktor. Program tersebut juga telah memperoleh sertifikasi ASEAN University Network-Quality Assurance atau AUN-QA.

Universitas memiliki Laboratorium Sains Bangunan, perangkat Autodesk Revit, perangkat simulasi Optimax, serta platform pembelajaran OASE. Infrastruktur ini akan mendukung pengembangan MOOC dan penerapan perangkat analisis emisi dalam kegiatan pembelajaran.

Pengalaman kerja sama dengan Tsinghua University dan Kansai University dalam bidang desain hemat energi untuk iklim tropis turut menjadi dasar pengembangan kurikulum. Hubungan dengan Ikatan Arsitek Indonesia juga mendukung upaya menghubungkan hasil riset dan pembelajaran dengan kebutuhan profesi.

Integrasi Dilakukan Secara Bertahap

Integrasi BEAT dirancang secara bertahap dalam pembelajaran. Mahasiswa akan mengenal perangkat tersebut sebelum mempelajari karbon material, karbon operasional, dan penerapannya dalam proyek akhir bangunan rendah karbon.

BEAT tidak dimaksudkan sebagai perangkat analisis daur hidup yang lengkap. Mahasiswa akan menggunakan data bangunan yang disederhanakan untuk memahami hubungan antara pilihan desain, material, konsumsi energi, dan tingkat emisi.

Strategi integrasi kurikulum terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama menilai kesesuaian kurikulum yang telah berjalan dengan empat modul utama LCB. Tahap kedua memperkuat mata kuliah yang ada dengan materi kesadaran karbon dan penggunaan BEAT.

Tahap terakhir memperluas pembelajaran melalui MOOC pada platform OASE dan penyusunan panduan replikasi. Pendekatan ini tidak menghapus materi yang telah berjalan efektif, tetapi menambahkan perspektif karbon ke dalam mata kuliah, studio perancangan, bimbingan tugas akhir, dan penelitian pascasarjana.

Dalam naskah sambutannya, Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana menekankan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan para perancang dan pengelola bangunan masa depan.

Apa yang kita ajarkan kepada mereka tahun ini akan menentukan apa yang benar-benar dibangun.

Prof. I Nyoman Suprapta Winaya, S.T., M.A.Sc., Ph.D
Direktur Pascasarjana Universitas Udayana

Melalui integrasi bangunan rendah karbon ke dalam kurikulum, Universitas Udayana berupaya menyiapkan lulusan teknik yang mampu merancang bangunan secara fungsional sekaligus menghitung, mengevaluasi, dan mengurangi dampak emisi sejak tahap perencanaan. (bmp)